Berkah

Saat membaca penggalan kisah nabi ‘Isa as. berikut:

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ [مريم: 31]

dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada … (Q.S. Maryam: 31).

Saat membaca penggalan ayat tersebut, pernahkah terlintas di benakmu: “Bagaimana caranya agar aku menjadi manusia yang diberkahi?”. (baca tulisan lain dengan judul: “Agar Diri dan Liqa’ Kita Berkah”).

Dan yang lebih penting dari itu, pernahkah engkau memohon kepada Allah SWT agar Dia berkenan menjadikan dirimu manusia yang diberkahi?

Demi membangun spirit untuk hal itu, ada baiknya kita membahas apa itu berkah?

Secara bahasa, berkah adalah kosakata yang dipergunakan untuk menunjuk dua makna yang telah bersenyawa menjadi satu, yaitu: tumbuh dan bertambah.

Berkah adalah value (nilai) moral-spiritual yang dikaitkan dengan amal shalih, atau manusia shalih.

Terkadang, juga disebut: taufiq yang maksudnya adalah pemosisian yang dilakukan oleh Allah SWT terhadap dirimu secara tepat dan pas.

Terkadang juga disebut sadad yang maksudnya adalah penempatan yang dilakukan oleh Allah SWT terhadap dirimu secara betul dan benar.

Dengan demikian, kosa kata berkah juga mengandung makna: turunnya berbagai jenis kebaikan dari Allah SWT kepada dirimu.

Perlu kita ketahui bahwa keberkahan adalah sesuatu yang tidak dapat diupayakan untuk didapatkan oleh seseorang dengan mempergunakan kekuatan atau harta atau semacamnya!

Sebab, keberkahan itu tidak lain datang dari sisi Allah SWT secara ladunni. Dia memberikannya kepada sebagian hamba-Nya sebagai bentuk fadhl (anugrah dan kemurahan Allah), dan juga nikmat dari-Nya, meskipun, tentu, keberkahan itu mempunyai dan ada sebab-sebabnya yang dapat diupayakan oleh manusia.

Oleh karena itu, yang dituntut dari seorang muslim adalah mengupayakan sebab-sebab keberkahan, taufiq dan sadad tersebut!

Utamanya, dan yang paling mudah dan gampang untuk diupayakan adalah melalui do’a, baik do’a kita secara langsung kepada Allah SWT, ataupun dengan cara kita meminta kepada orang lain agar mendo’akan kita demi mendapatkan keberkahan ilahiyah tersebut.

Perlu diketahui juga bahwa kita sebagai manusia sangat perlu untuk berdo’a dan memohon kepada Allah SWT agar Dia berkenan memberikan keberkahan-Nya kepada kita.

Tersebut dalam hadits:

عَنْ أَنَسٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ: دَخَلَ النَّبِيُّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَلَيْنَا، وَمَا هُوَ إِلَّا أَنَا وَأُمِّي وَأُمُّ حَرَامٍ، خَالَتِي. فَقَالَتْ أُمِّي: يَا رَسُولَ اللهِ خُوَيْدِمُكَ، ادْعُ اللهَ لَهُ، قَالَ فَدَعَا لِي بِكُلِّ خَيْرٍ، وَكَانَ فِي آخِرِ مَا دَعَا لِي بِهِ أَنْ قَالَ: «اللهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ، وَبَارِكْ لَهُ فِيهِ» (متفق عليه: البخاري [6334، 6344، 6378، 6380]، ومسلم [2481]).

Dari Anas ra. ia berkata: “Rasulullah saw. memasuki rumah kami, dan di dalam rumah tidak ada siapa-siapa kecuali saya, ibuku (Ummu Sulaim) dan Ummu Haram (saudara perempuan Ummu Sulaim); bibiku”, lalu ibuku berkata: “Wahai Rasulullah, inilah pembantu engkau yang masih kecil, do’akanlah ia”. Anas berkata: “Lalu Rasulullah saw. mendo’akan diriku dengan berbagai kebaikan, dan pada akhir do’anya beliau untukku bersabda: «ya Allah, perbanyak harta dan anaknya, dan berikanlah keberkahan kepadanya». (Hadits muttafaqun ‘alaih: Bukhari [6334, 6344, 6378 dan 6380], dan Muslim [2481]).

Nabi Muhammad saw. juga mengajarkan do’a keberkahan untuk berbagai momentum, diantaranya:

  1. Momentum pernikahan, dengan do’a: BarokaLlahu laka, wa baroka ‘alaika, wa jama’a bainakuma fi khair. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepadamu, dalam seluruh keadaanmu, baik yang engkau sukai maupun yang tidak engkau sukai, dan semoga Allah SWT menghimpun kamu dan pasanganmu dalam kebaikan..
  2. Momentum makan, dengan do’a: Allahumma barik lahum fima rozaqtahum, waghfir lahum warhamhum. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada mereka dalam rizki yang telah Engkau berikan kepada mereka, ampuni mereka dan rahmati mereka.

Perlu kita ketahui bahwa keberkahan merupakan faktor utama bagi kebahagiaan, jika ia berada bersama sesuatu yang sedikit, maka keberkahan itu akan menjadikannya banyak, dan jika ia membersamai sesuatu yang banyak, maka Allah SWT akan melipat gandakan nilai manfaat dari sesuatu yang banyak itu!

Keberkahan itu sangat kita perlukan dalam berbagai urusan kehidupan kita, diantaranya:

Pertama: Keberkahan Umur.

Maka, jika keberkahan itu membersamai umur seorang manusia, manusia itu akan mampu merealisasikan berbagai capaian-capaian serta kerja-kerja yang tidak mampu dilakukan oleh manusia lainnya.

Contohnya adalah seorang sahabat nabi bernama Sa’d bin Mu’adz ra. Beliau masuk Islam saat berusia 30 tahun dan meninggal dunia dalam usia 36 tahun. Artinya, beliau ber-Islam hanya selama 6 tahun. Namun, saat beliau wafat, ‘Arsy Allah SWT bergoncang!

Dan dalam sejarah Islam, ada banyak sekali ulama’, pemimpin, aktifis da’wah, baik di zaman dahulu maupun di zaman sekarang, di mana mereka-mereka itu umurnya tidak lah panjang, namun, mereka mampu menorehkan capaian-capaian ilmu, da’wah dan jihad yang tidak dapat dicapai oleh manusia-manusia lainnya dalam tempo umur yang sama.

Kedua: Keberkahan Waktu

Maksudnya, waktu yang dimiliki oleh manusia adalah sama, namun, daya tampung waktu itu untuk didaya gunakan, dioptimalkan, dan dimaksimalkan. Hal ini berbeda antara satu manusia dengan manusia lainnya, dan keberkahan waktu bagi seorang manusia membuat ia mampu mengisinya dengan tingkat produktifitas dan kualitas yang sangat baik dan prima.

Sekedar gambaran, terkadang seorang manusia menghabiskan waktu antara satu dan dua jam untuk bekerja. Sebagian manusia, dalam tempo itu dapat menggapai capai-capaian yang sangat banyak sekali, sementara manusia lainnya, hanya mampu menorehkan capaian yang sangat kecil, bahkan ada juga yang waktu satu dua jam itu terbuang sia-sia belaka!

Satu menit, bagi seorang manusia yang diberkahi, tidak lah sama dengan manusia yang tidak diberkahi, terutama dalam menghasilkan amal shalih yang diterima di sisi Allah SWT.

Sebagian orang menghabiskan 10 jam untuk tidur. Meskipun demikian, saat ia terbangun dari tidurnya, ia masih malas-malasan, terus menerus menguap dan masih saja mengantuk, seakan ia belum tidur. Sementara, manusia lainnya, ia haya tidur 5 jam, dan saat terbangun, ia terbangun dalam keadaan segar, bugar, nyaman dan siap bekerja dan berproduktifitas secara maksimal.

Perlu kita ketahui bahwa diantara waktu yang diberkahi, adalah pagi hari! Dikarenakan adanya do’a nabi Muhammad saw.:

عَنْ عَلِيٍّ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : «اللهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا» (حديث حسن لغيره رواه أحمد عن علي [1320، 1323، 1329، 1331، 1339]، ورواه أبو داود عن صخر الغامدي [2606]).

Dari Ali ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: «Ya Allah, berikanlah keberkahan untuk umatku pada pagi hari mereka». (Hadits hasan lighairihi, diriwayatkan oleh Ahmad dari Ali [1320, 1323, 1329, 1331, 1339], dan diriwayatkan oleh Abu Daud dari Shkhr al-Ghamidi [2606]).

Ketiga: Keberkahan Rizki

Ia bisa berbentuk kecukupan rizki. Atau dengan rizki yang sedikit, namun seseorang dapat menghasilkan sesuatu yang sangat banyak. Juga memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya dan umumnya manusia.

Sekedar gambaran, seorang pegawai. Ada diantara para pegawai itu yang sebenarnya bergaji besar, namun, menjelang akhir bulan, ia tetap harus berhutang ke sana kemari untuk menutupi hajatnya.

Sementara, ada pegawai lain yang gajinya jauh lebih kecil darinya, namun, dengan gaji kecil itu, ia mampu menutupi seluruh hajat hidupnya.

Keempat: Keberkahan Ilmu

Diantara gambaran keberkahan ilmu, engkau mendengar satu ayat, atau satu hadits, atau satu info ilmiah. Dan begitu engkau mendengarnya, engkau langsung mempraktekkan dan mengamalkannya, dan terus menerus konsisten dengan pengamalan itu sampai akhir hayatmu.

Gambaran lainnya, dengan ilmu itu engkau berda’wah memberikan bimbingan dan arahan kepada banyak manusia, sehingga mereka menjadi mengerti, berilmu dan paham agama mereka ..

Jadi, ilmu yang bermanfaat, adalah ilmu yang berkah. Adapun ilmu, yang antara memilikinya dan tidak memilikinya sama saja, maka ilmu itu bukanlah ilmu yang berkah, meskipun, bisa jadi, kuwantitinya sangat banyak.

Dan diantara keberkahan ilmu adalah menerapkan, mempraktekkan dan mengimplementasikan ilmu itu, yang dengannya, engkau semakin berbahagia dan semakin bergembira dalam kehidupan ini. Juga semakin bertambah tsabat (teguh dan tegar) dalam memegangi iman, Islam dan Ihsan, semakin istiqomah dan semakin mantap dalam meniti jalan hidayah. Dan dengan pengamalan ilmu ini pula seseorang akan merasakan manis dan lezatnya iman, Islam dan Ihsan ini, rasa yang didapatinya di dalam jiwa dan di dalam hati.

Kelima: Keberkahan Rumah

Bentuknya bisa berupa kemampuan rumah itu untuk “menampung” seluruh penghuninya dengan rasa nyaman.

Sebagian orang merasa bahwa rumahnya seakan sangat sempit, padahal rumahnya itu adalah sebuah istana. Hal ini bisa terjadi karena banyaknya kemungkaran di dalam rumah itu, tidak ada dzikir dan tilawah Al-Qur’an di dalamnya.

Sedangkan rumah yang berkah adalah rumah yang selalu dihadiri oleh para malaikat, dan dipenuhi oleh berbagai kebaikan. Akibatnya syetan-syetan semuanya lari menjauhi rumah yang penuh dengan kebaikan itu.

Perlu kita ketahui, bahwa kita perlu sering-sering berdo’a dan memohon kepada Allah SWT agar keberkahan itu selalu bersemayam di dalam rumah kita.

Perhatikan dengan baik ilham yang Allah SWT wahyukan kepada nabi Nuh as. agar beliau memanjatkan do’a berikut:

وَقُلْ رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِينَ [المؤمنون: 29]

Dan berdoalah: Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat” (Q.S. Al-Mukminun: 29).

Keenam: Keberkahan Anak

Anak yang Mubarak adalah anak yang shalih, yang menghambakan diri kepada Allah SWT, yang taat kepada kedua orang tuanya, yang beradab dan sopan santun kepada mereka.

Sedangkan anak yang tidak berkah adalah anak yang hubungannya dengan Allah SWT lemah, yang menyia-nyiakan shalat, berakhlaq buruk serta durhaka kepada kedua orang tuanya.

Perlu Direnungkan!

  1. Keberkahan itu derajat dan tingkatannya berbeda-beda. Ukurannya pun, antara satu sisi kehidupan dengan sisi lainnya tidak lah sama. Ia bisa berlebih pada seseorang di satu sisi, dan bisa kurang pada sisi yang lain.
  2. Pada sisi yang engkau telah mendapatkan taufik untuk diberkahi oleh Allah SWT, itu pun tidak lah kekal dan abadi. Dalam arti, keberkahan itu bisa datang dan muncul di satu waktu dan kondisi, dan bisa pula hilang di waktu dan kondisi yang lain, na’udzu billah min dzalik.
  3. Keberkahan itu ibaratnya seperti tentara tersamar dan tersembunyi, di mana Allah SWT dapat mengerahkan dan memberikannya kepada sebagian hamba-Nya, sesuai dengan kehendak Allah SWT, dan dapat pula menariknya, na’udzu billah min dzalik.
  4. Keberkahan itu sangat terkait erat dengan tingkat keshalihan dan keikhlasan hati, sehingga, hati manusia semakin baik dan ikhlas, akan semakin bertambah keberkahan itu dengan seijin Allah SWT, dan semakin hati manusia kotor dan syirik (jauh dari ikhlas), akan semakin berkurang dan menjauh lah keberkahan itu, oleh karena itu, jaga dan pelihara kebersihan dan keikhlasan hati, agar keberkahan selalu menyertaimu, dan jangan mengotori hati itu, sebab hati akan menjadi sakit dan bahkan mati, yang menyebabkan keberkahan akan berkurang dan bahkan menghilang, na’udzu billah min dzalik.
  5. Keberkahan itu terjadi bersama dengan komitmen seseorang untuk taat kepada Allah SWT dan menjauhi maksiyat kepada-Nya. dan sesuai dengan kadar dan tingkat ketaatan itu, akan bertambah dan meningkat pula keberkahan Allah SWT, dan jika kadar dan tingkat kemaksiatan seseorang juga bertambah dan meningkat, akan berkurang pula keberkahan Allah SWT kepadanya. Na’udzu billah min dzalik.
  6. Berdo’a adalah cara penting untuk mendapatkan keberkahan, oleh karena itu, jangan lupa memohon keberkahan kepada Allah SWT pada setiap kali engkau berdo’a, dan jangan lewatkan jatah permohonan keberkahan dalam do’a-do’amu.

Semoga bermanfaat dan berkah, amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *