AYATUL UMARA (Bagian-1)

leadership1

AYATUL UMARA

(آية الأمراء)

Bagian-1

PENGERTIAN

Secara Bahasa, ayatul umara terdiri dari suku kata, yaitu: ayat dan umara.

Yang dimaksud dengan kosa kata ayat di sini adalah sebuah atau satu ayat Al-Qur’an. Sedangkan kosa kata umara adalah bentuk jama’ (plural) dari bentuk tunggal (single) dari kata amir yang berarti seorang pemimpin. Dengan demikian, secara Bahasa, kosa kata ayatul umara’ artinya sebuah atau satu ayat terkait dengan para pemimpin.

Namun, dalam Bahasa Arab, jika sebuah kosa kata mufrad (single) digabungkan dengan kosa kata jama’ (plural), maka kosa kata yang mufrad (single) itu tidak harus bermakna mufrad (single), sebab ia bisa berarti lebih dari satu.

Oleh karena itu, kosa kata ayatul umara tidak berarti harus hanya satu ayat, namun, kosa kata ini bisa bermakna ada lebih dari satu ayat di satu tempat dalam Al-Qur’an yang berbicara tentang para pemimpin, yang karenanya satu ayat atau lebih itu diberi nama, atau diberi istilah ayatul umara.

Sedangkan yang dimaksud dengan istilah ayatul umara ini adalah Q.S. An-Nisa’ ayat 58 dan 59.

Dua ayat ini dinamakan demikian karena keduanya berbicara tentang kewajiban dan hak para pemimpin; ayat 58 lebih dominan berbicara tentang kewajiban yang harus dilakukan oleh para pemimpin, sedangkan ayat 59-nya lebih dominan berbicara tentang hak para pemimpin ini.

Berdasarkan penelusuran yang dilakukan oleh para ulama’, yang pertama kali memberi nama ayat 58 dan 59 dari surat An-Nisa’ ini dengan nama ayatul umara adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah (661 – 728 H = 1263 – 1328 M).

Hal ini bisa dilihat dalam salah kitab beliau yang berjudul: As-Siyasah asy-Syar’iyyah fi Ishlahi ar-Ra’i war-Ra’iyyah (السياسة الشرعية في إصلاح الراعي والرعية).

Pada permulaan kitabnya ini, Ibnu Taimiyyah berkata:

وَهَذِهِ رِسَالَةٌ مَبْنِيَّةٌ عَلَى آيَةِ الْأُمَرَاءِ فِيْ كِتَابِ اللهِ ..

Risalah (kitab/buku) ini didasarkan kepada ayatul umara dalam kitabullah ..

Lalu, peristilahan Ibnu Taimiyah ini dibenarkan dan diikuti oleh beberapa ulama’ berikutnya, diantaranya:

  1. Jamaluddin al-Qasimi (1283 – 1332 H = 1866 – 1914 M) dalam kitab tafsirnya yang bernama: Mahasinut-Ta’wil (محاسن التأويل) (3/180).
  2. Para ulama dalam Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (1/2128).

Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا . يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا [النساء: 58 – 59]

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Q.S. An-Nisa’: 58 – 59).

Bersambung …

4 Comments

  1. Pingback: MEMBERI NAMA AYAT – Musyafa

  2. Pingback: AYATUL UMARA’ (Q.S. AN-NISA’: 58) Bag. 2 – Musyafa

  3. Pingback: Ayatul Umara’ (Q.S. AN-NISA’: 58) Bag. 2 – TEKAD

  4. Pingback: Memberi Nama Ayat – TEKAD

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *