ALANGKAH INDAHNYA SAAT QIYADAH ULYA MERESTUI, MENDO’AKAN DAN MENSUPPORT

Prolog

Hassan bin Tsabit (RA) merupakan salah seorang sahabat nabi SAW. Kepakaran dan kepiawaiannya adalah dalam bersyi’ir. Repotnya, ada beberapa ayat dalam Al-Qur’an al-Karim yang sepintas lalu (sekali lagi: sepintas lalu) memberi kesan, bahwa ia bukanlah sesuatu yang terpuji, kalau tidak mau dikatakan tercela. Ini di satu sisi.

Dari sisi yang lain, kepakaran dan kepiawaian Hassan bin Tsabit (RA) dalam bersyi’ir, di masa jahiliyyah, masa sebelum Islam, bukanlah kepakaran dan kepiawaian yang tertinggi. Pernah, pada suatu kali, di masa jahiliyyah, ikutlah Hassan bin Tsabit dalam adu kekuatan syi’ir bersama penyair-penyair Arab lainnya, yang diantaranya datang pula penyair perempuan bernama Khansa’ (seorang penyair perempuan jahiliyyah, namun akhirnya masuk Islam menjadi salah seorang sahabat Rasulullah SAW, meninggal pada tahun 24 H, atau sekitar tahun 645 M), dan sebagai yuri nya adalah An-Nabighah Adz-Dzibyani (meninggal pada tahun 18 sebelum nabi Muhammad SAW berhijrah, atau sekitar tahun 605 M, meninggal di zaman jahiliyyah). Dalam pertandingan adu kekuatan dan kehebatan syi’ir itu, Hassan bin Tsabit dikalahkan oleh Khansa’. Ini sisi atau masalah kedua, yaitu bahwa kemampuan bersyi’ir Hassan bin Tsabit bukanlah kemampuan paling puncak pada waktu itu.

Pada sisi ketiga, Hassan bin Tsabit (RA) tidaklah termasuk seorang sahabat nabi yang gagah perkasa. Padahal, di zaman itu, tuntutan kegagahan dan keperkasaan secara fisik sangat diandalkan dan sangat diperlukan, sebab era nya memang era yang sangat memerlukan jihad secara fisik. Oleh karena itu, hampir semua cerita kehebatan tentang para sahabat nabi SAW dikaitkan dengan cerita kehebatan tentang kepahlawanan heroisme mereka di medan perang. Salah satu bukti atau dalil yang menunjukkan bahwa Hasan bin Tsabit (RA) bukanlah sosok sahabat yang gagah perkasa secara fisik, adalah cerita yang mengisahkan bahwa saat terjadi perang Ahzab, Hassan bin Tsabit (RA) berada bersama dengan kaum wanita yang diantaranya adalah Shofiyyah binti Abdil Muththalib (RA), salah seorang bibi Rasulullah SAW. Lalu datanglah beberapa lelaki Yahudi ke tempat itu yang hendak melakukan aksi mata-mata, atau bahkan hendak menyerang kaum muslimin dari titik dan posisi itu. Saat itu Shofiyyah (RA) menyuruh Hassan untuk membunuh Yahudi itu, namun Hassan menolak permintaan itu dengan alasan, dia bukanlah orang yang piawai untuk urusan yang demikian. Maka turunlah Shofiyyah (RA) secara langsung untuk membunuh Yahudi itu.

Jadi ada tiga sisi atau masalah dalam hal ini, masalah syi’ir itu sendiri, masalah ketinggian syi’ir dan masalah keperkasaan.

Pembahasan

Pertama: Syumuliyatuk Islam, Syumuliyyatul Jihad

Namun, perlu diketahui bahwa agama Islam adalah agama yang syamil (komprehensip) dan mutakamil (saling melengkapi dan saling kuat menguatkan). Karenanya, perlu diketahui pula bahwa perjuangan membela Islam dan berjihad di jalannya, harus lah syamil dan mutakamil pula.

Memang, yang dominan dan menonjol di zaman itu, zaman antara tahun 1 sampai tahun 11 hijiryah, adalah jihad bin-nafsi wabil mali, berjihad dengan jiwa raga dan berjihad dengan harta, berjihad dengan cara mengerahkan jiwa, raga dan harta benda untuk berperang di jalan Allah SWT.

Namun, hal yang dominan karena situasi dan kondisi di satu sisi, dan yang paling tinggi dalam strata berjihad di sisi yang lain, tidak lah menafikan adanya bentuk-bentuk jihad lainnya, baik jihad ilmi, atau jihad ilmiah, sebagaimana yang dilakukan oleh Zaid bin Tsabit (RA), Abdullah bin Abbas (RA) dan yang lainnya.

Tidak juga menafikan jihad I’lami, atau jihad media, yang ponggawanya pada waktu itu adalah bersyi’ir demi membela Islam, Rasulullah SAW dan kaum muslimin, yang diantara pelaku dan tokohnya adalah Abdullah bin Rawahah (RA) dan Hassan bin Tsabit (RA).

Juga tidak boleh menafikan adanya jihad-jihad dalam bentuk yang lain, sesuai dengan tuntutan syumuliyah dan takamuliyah Islam.

Kedua: Perlu Restu, Do’a dan Support

Barangkali, wallahu a’lam, karena yang dominan pada waktu itu adalah jihad bin-nafsi wabil mali, ada kemungkinan, sekali lagi ada kemungkinan, atau celah, jihad dalam bentuk yang lain “terlupakan”, khususnya yang berkenaan dengan syi’ir dan bersyi’ir, apalagi kalau kita mengingat bahwa ada beberapa ayat yang bisa disalah pahami sebagai tidak menyetujui seseorang untuk bersyi’ir.

Di sinilah perlunya qiyadah ulya (pimpinan tertinggi) untuk memberikan restu, do’a dan support terhadap pelaku jihad dengan cara bersyi’ir ini, terlebih jika situasi dan kondisi mengharuskan atau mewajibkan penggunaan syi’ir sebagai media dan bentuk berjihad fi sabilillah.

Dan inilah yang terjadi pada Hassan bin Tsabit (RA), di mana dia mendapatkan restu, do’a dan support dari Rasulullah SAW untuk berjihad dengan cara dan mempergunakan kemampuannya dalam bersyi’ir.

Sekali lagi, restu, do’a dan support ini sangat diperlukan oleh Hassan bin Tsabit (RA) mengingat bahwa ada kemungkinan salah faham tentang penggunaan syi’ir sebagai salah satu pilihan berjihad fi sabilillah, juga mengingat bahwa di zaman Jahiliyyah, kemampuan bersyi’ir Hassan bin Tsabit (RA) pernah “dikalahkan” oleh kemampuan bersyi’ir Khansa’ (RA) dan mengingat bahwa ada situasi dan kondisi serta tuntutan berjihad di mana Hassan bin Tsabit (RA) adalah pelaku utamanya, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh kebanyakan para sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum.

Tersebut dalam hadits muttafaqun ‘alaih, dari Albara’ bin ‘Azib, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Hassan bin Tsabit (RA) sebagai berikut:

«اهْجُهُمْ – أَوْ هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ» (متفق عليه؛ البخاري [3213، 4123، 6153]، ومسلم [2486]).

Sebutkan aib-aib dan caci mereka dan malaikat Jibril (AS) menyertaimu. (Hadits muttafaqun ‘alaih, lihat Shahih Bukhari [3213, 4123 dan 6153] dan Shahih Muslim [2486]).

Dalam redaksi dan cerita yang lebih panjang, Imam Muslim menyebutkan dalam kitab shahihnya sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ: «اهْجُوا قُرَيْشًا، فَإِنَّهُ أَشَدُّ عَلَيْهَا مِنْ رَشْقٍ بِالنَّبْلِ» فَأَرْسَلَ إِلَى ابْنِ رَوَاحَةَ فَقَالَ: «اهْجُهُمْ» فَهَجَاهُمْ فَلَمْ يُرْضِ، فَأَرْسَلَ إِلَى كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ، ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى حَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ، فَلَمَّا دَخَلَ عَلَيْهِ، قَالَ حَسَّانُ: قَدْ آنَ لَكُمْ أَنْ تُرْسِلُوا إِلَى هَذَا الْأَسَدِ الضَّارِبِ بِذَنَبِهِ، ثُمَّ أَدْلَعَ لِسَانَهُ فَجَعَلَ يُحَرِّكُهُ، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَأَفْرِيَنَّهُمْ بِلِسَانِي فَرْيَ الْأَدِيمِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : «لَا تَعْجَلْ، فَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ أَعْلَمُ قُرَيْشٍ بِأَنْسَابِهَا، وَإِنَّ لِي فِيهِمْ نَسَبًا، حَتَّى يُلَخِّصَ لَكَ نَسَبِي» فَأَتَاهُ حَسَّانُ، ثُمَّ رَجَعَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، قَدْ لَخَّصَ لِي نَسَبَكَ، وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَأَسُلَّنَّكَ مِنْهُمْ كَمَا تُسَلُّ الشَّعْرَةُ مِنَ الْعَجِينِ. قَالَتْ عَائِشَةُ: فَسَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَقُولُ لِحَسَّانَ: «إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ لَا يَزَالُ يُؤَيِّدُكَ، مَا نَافَحْتَ عَنِ اللهِ وَرَسُولِهِ»، وَقَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «هَجَاهُمْ حَسَّانُ فَشَفَى وَاشْتَفَى» (رواه مسلم [2490]).

Dari Aisyah (RA) bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Tunjukkan aib-aib [kafir] Quraisy dengan syi’ir kalian, sebab serangan cacian syi’ir lebih dahsyat daripada hujan anak panah”. Maka Rasulullah SAW mengutus seseorang untuk mendatangi Abdullah bin Rawahah, lalu beliau bersabda kepadanya:”Caci mereka dengan syi’irmu”. Maka Abdullah pun mencaci mereka, namun, beliau SAW belum puas. Maka beliau SAW mengutus seseorang untuk mendatangi Ka’b bin Malik, kemudia beliau SAW mengutus seseorang untuk mendatangi Hassan bin Tsabit. Saat Hassan tiba di tempat Rasulullah SAW, Hassan berkata: “Sungguh, telah tiba saatnya bagi engkau untuk mengutus kepada singa yang mengibas-ngibaskan ekornya, lalu menjulurkan lidahnya dan menggerak-gerakkannya”. Selanjutnya Hassan berkata: “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, sungguh aku akan menyayat-nyayat kafir Quraisy dengan lisanku sebagaimana tersayatnya kulit”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Jangan terburu-buru, sebab Abu Bakar adalah orang Quraisy paling mengetahui tentang sejarah mereka, dan sesungguhnya aku mempunyai sejarah positif di tengah mereka, supaya Abu Bakar meresume sejarahku kepadamu”. Kemudian Hassan kembali lagi kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: “Wahai Rasulullah, Abu Bakar telah meresumekan sejarah engkau kepadaku, dan demi Dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, sungguh, aku akan dapat menarik engkau dari keburukan mereka sebagaimana tertariknya satu biji rambut dari adonan roti”. Aisyah berkata: “Maka saya mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Hassan: “Sesungguhnya malaikat Jibril (AS) senantiasa mendukungny, selama engkau membela Allah SWT dan Rasul-Nya”. Dan Aisyah berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Hassan telah mencaci balik kafir Quraisy, balasannya puas dan memuaskan”.(HR Muslim [2490]).

Ketiga: Ibrah dan Pelajaran

Ada banyak ibrah dari cerita Hassan bin Tsabit (RA), diantaranya:

  1. Perlunya qiyadah ulya, dengan spirit menteladani Rasulullah SAW untuk mengklarifikasi tentang penggunaan syi’ir dalam sebagai satu bentuk berjihad fi sabilillah. Klarifikasi ini penting dan perlu, sebab, ada peluang bahwa syi’ir ini dipandang sebagai sesuatu yang tidak dibenarkan untuk dipergunakan dalam berjihad, terutama dari kalangan mutasyaddidin, kalangan yang suka memberat-beratkan suatu urusan.
  2. Perlunya qiyadah ulya, dengan spirit menteladani Rasulullah SAW untuk mendo’akan para kader dan atau anggotanya) yang sedang menjalankan jihad dengan model seperti jihadnya Hassan bin Tsabit (RA), agar jihadnya menuai hasil yang maksimal.
  3. Perlunya qiyadah ulya, dengan spirit menteladani Rasulullah SAW untuk mendaya gunakan potensi apa pun yang ada pada para kader dan atau anggotanya, dan menyalurkan potensi mereka untuk berjihad fi sabilillah. Terlebih potensi-potensi dan bakat-bakat langka, yang tidak semua kader dana tau anggota memilikinya.
  4. Perlunya qiyadah ulya, dengan spirit menteladani Rasulullah SAW untuk memberikan support mental dan spiritual, syukur-syukur juga support material, demi suksesnya jihad para kader dan atau anggotanya. Tentunya sesuai dengan tingkat dan kemampuann yang dimiliki oleh para qiyadah ulya itu.

Terbayang pada diri saya (penulis) yang dha’if ini, bagaimana perasaan dan daya juang Hassan bin Tsabit (RA) saat mendapatkan support yang demikian luhur, tinggi dan istimewa dari Rasulullah SAW:

«اهْجُهُمْ – أَوْ هَاجِهِمْ وَجِبْرِيلُ مَعَكَ» (متفق عليه؛ البخاري [3213، 4123، 6153]، ومسلم [2486]).

Sebutkan aib-aib dan caci mereka dan malaikat Jibril (AS) menyertaimu. (Hadits muttafaqun ‘alaih, lihat Shahih Bukhari [3213, 4123 dan 6153] dan Shahih Muslim [2486]).

Sebab, sabda ini bukan sekedar memberikan support, akan tetapi, lebih mendasar dari itu, yaitu memberi legalitas, memberi pembenaran bahwa berjuang dengan syi’ir itu dibenarkan, didukung dan didoakan. Sungguh, support yang sangat luar biasa dari Rasulullah SAW.

Keempat: Ibrah Lain

Ada ibrah lain yang menarik. Ibrah ini terkait dengan pembenaran atas penggunaan syi’ir sebagai salah satu bentuk berjihad fi sabilillah, padahal, syi’ir bisa jadi dianggap oleh sebagian kalangan, termasuk sebagian kalangan sahabat nabi (sebelum mendapatkan klarifikasi) sebagai “barang terlarang”.

Sisi menariknya adalah bahwa, di zaman sekarang ini, ada beberapa “barang larangan”, ada beberapa aktifitas atau kegiatan yang dianggap sebagai “barang terlarang”, padahal sebenarnya, ia bukanlah “barang terlarang”, sebab ia adalah bagian yang sangat penting di dalam Islam, dalam dakwah Islam dan di dalam harakah Islamiyah.

Ada beberapa barang yang masih dianggap “terlarang”, diantaranya, dan sesekali (kalau tidak kita katakana sering) masih suka muncul dalam wacana dan perbincangan. Diantaranya adalah barang yang bernama “politik” dengan seluruh varian aktifitas dan kegiatannya.

Bentuk-bentuk “pelarangannya” pun beraneka macam. Ada kalanya dengan mengatakan bahwa politik itu kotor, padahal agama itu suci, oleh karena itu, jangan bawa agama ke politik, nanti agama menjadi kotor??!!

Kenapa logikanya tidak dibalik saja?! “mari bawa agama yang bersih itu ke politik yang “kotor”, agar politik menjadi bersih”!!! misalnya.

Ada kalanya, “pelarangan” itu terjadi dalam bentuk “tuduhan” kepada orang-orang yang hendak terjun ke politik, atau pilkada, atau pilkades dan semacamnya dengan tuduhan bahwa dia itu “cinta dunia”, “cinta jabatan”, “meninggalkan dakwah dan beralih ke politik” dan semacamnya.

Sebagai akibat dari adanya “pelarangan-pelarangan” semacam ini, maka, kader dakwah yang “mendapatkan tugas” untuk terjun di kancah itu menjadi inferior, atau tertuduh, padahal, mereka yang “terjun” ini juga telah mengorbankan banyak hal, baik material maupun inmaterial, dan semua ini mereka lakukan demi suksesnya dakwah dan perjuangan Islam, insyaAllah…

Karena adanya situasi dan keadaan seperti inilah, mereka sangat memerlukan pembenaran, do’a dan support, sebagaimana yang pernah Hassan bin Tsabit (RA) dapatkan dari Rasulullah SAW.

Penutup

Islam itu agama yang syamil mutakamil. Maka perjuangan Islam pun perlu perjuangan yang syamil dan  mutakamil pula.

Demi mewujudkan perjuangan yang syamil dan mutakamil tersebut, diperlukan adanya keterlibatan berbagai potensi, kemampuan, daya dukung dan keahlian kader yang syamil dan mutakamil pula.

Medan dan tantangan dakwah, juga sangat luas dan beragam. Dan semua itu perlu diisi oleh semua aktifis dakwah, agar tidak ada celah yang darinya bisa menjadi sebab melemahnya dakwah.

Begitu juga dengan tantangan dan ancaman terhadap dakwah. Ia bisa datang dan muncul dari mana medan dan kancah yang mana saja. Oleh karena itu, perlu usaha dari para aktifis dakwah, wabil khusus dari para pemimpinnya, untuk menutup kemungkinan terbukanya celah ancaman dan atau tantangan itu.

Dari sudut pandang inilah, cerita tentang Hassan bin Tsabit (RA) menginspirasi kita, dan semoga kita benar-benar terinspirasi, semoga, amin.

One Comment

  1. If your artclies are always this helpful, “I’ll be back.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *