Akal dalam Al-Qur’an

Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan bahwa kosa kata “AKAL” (dalam Bahasa Arab: عقل) dengan huruf dasar ‘ain, qaf dan lam, di dalam Al-Qur’an, disebutkan sebanyak 49 kali.

Seluruhnya berbentuk fi’il (kata kerja), tidak satupun berbentuk isim (kata benda). Bahkan, semuanya berbentuk fi’il mudhari’ (48 kali), hanya satu kali saja yang berbentuk fi’il madhi.

Rinciannya, 46 kali berbentuk fi’il mudhari’ yang disandarkan kepada wawu jama’, dengan rincian 24 kali berbunyi: TA’QILUN dan 22 kali berbunyi YA’QILUN.

Satu kali berbunyi NA’QILU.

Satu kali berbunyi YA’QILU, dan

Satu kali berbunyi ‘AQALUHU

Ini menurut qiro’ah ‘Ashim yang diriwayatkan oleh Hafsh.

Setelah DR. Yusuf Al-Qardhawi menjelaskan data statistik di atas, dan setelah menjelaskan bebarapa ayat terkait akal dan tafsirnya, beliau berkata:

“اَلْعَقْلُ” غَطَّى كُلَّ الْجَوَانِبِ: اَلْكَوْنِ، عَلَوِيِّهِ وَسَفَلِيِّهِ، اَلْإِنْسَانِ بِحَاضِرِهِ وَمَاضِيْهِ، آيَاتِ اللهِ الْكَوْنِيَّةِ وَالتَّنْزِيْلِيَّةِ، فَمَنْ لَمْ يَسْتَخْدِمْ عَقْلَهُ فِيْ هَذِهِ النَّوَاحِيْ كُلِّهَا، كَانَ خَلِيْقًا أَلَّا يَهْتَدِيَ إِلَى الْحَقِّ، وَأَنْ يَسِيْرَ فِيْ رِكَابِ أَهْلِ الضَّلَالِ وَالْإِضْلَالِ، وَأَنْ يَقُوْلَ مَعَ أَهْلِ الشَّقَاءِ فِي النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَا حَكَاهُ اللهُ عَنْهُمْ: ﴿وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ . فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ﴾ [الملك: 10 – 11]

Kosa kata “akal” dalam Al-Qur’an, mengcover berbagai sisi:

  • Alam semesta: baik yang di atas, maupun yang di bawah.
  • Manusia, baik masa lalu nya atau pun masa kininya.
  • Ayat-ayat Allah, baik yang terbentang di alam, maupun yang diwahyukan.

Oleh karena itu, siapa saja yang tidak mempergunakan akalnya pada semua sisi ini, pantas lah baginya kalau ia tidak menemukan jalan menuju kebenaran, sehingga ia berjalan di barisan orang-orang yang tersesat dan menyesatkan. Dan pada akhirnya, di hari kiamat, ia akan berkata seperti yang dikatakan oleh orang-orang yang sengsara di dalam neraka (sebagaimana diceritakan oleh Allah SWT tentang mereka): “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan dalam rangka memahami, atau mempergunakan akal kami, niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (dengan pernyataan ini) Mereka telah mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. (Q.S. Al-Mulk: 10 – 11).

(Dikutip dari kitab: Al-‘Aqlu wal ‘Ilmu fil Qur’an al-Karim, karya DR. Yusuf Al-Qaradhawi).

Catatan:

Kutipan ini sangat menarik, sebab:

  • Yang terhitung sebagai dosa (فاعترفوا بذنبهم), adalah tidak digunakannya akal dalam berbagai sisi yang disebutkan di atas.
  • Dan ternyata, sisi, di mana akal harus dipergunakan, tidak Cuma sekedar terhadap ayat tanziliyyah saja, namun juga harus dipergunakan pada:
    • Alam semesta seluruhnya, bai kalam atas, maupun alam bawah.
    • Seluruh sisi kehidupan manusia, baik masa lalunya, maupun masa kontemporernya, dan juga harus dipergunakan pada
    • Ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *